logo-kyaijawab

penulis : Kyai || dibaca : 396 Kali

Kotoran ikan hukumnya memang najis, akan tetapi jika ikan itu diletakkan di sebuah tempat dengan tujuan tertentu yang bermanfaat dan kotorannya tidak merubah salah satu dari ketiga sifat air yang ada, yaitu tidak merubah warna, rasa atau aromanya, maka najis kotoran ikan tersebut dimaafkan, sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Muhammad bin 'Ali Ba 'Athiyyah dalam bukunya Ad-Durratul Yatimah(1).

Dalam kasus di atas, ikan tersebut diletakkan di dalam bak mandi dengan tujuan untuk menghindari berkembang-biaknya jentik-jentik nyamuk yang sangat berbahaya. Bukan diletakkan tanpa tujuan. Dengan demikian, selama air bak mandi tersebut tidak berubah warna, rasa, atau aromanya, maka ia adalah air yang suci. Tetapi jika airnya berubah menjadi keruh karena kotorannya terlalu banyak, atau aromanya tidak sedap, atau rasanya telah berubah, maka air tersebut najis hukumnya.


  1. Muhammad bin 'Ali Ba 'Athiyyah, Ad-Durratul Yatimah, Darul Hawi, Cet.I, 1997, Hal.49.

Tinggalkan Komentar

Form bertanda * harus diisi.
Email Anda tidak akan ditampilkan.

Silahkan anda tuliskan huruf yang ada di gambar.
Tulisan tidak memperhatikan huruf kapital
dan semua tulisan adalah huruf.