logo-kyaijawab

penulis : Kyai || dibaca : 3059 Kali

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan tersendiri.  Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti (orang yang) berpuasa selama setahun penuh. (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa`i dan Ibnu Majah)

 

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan bahwa menurut para ulama madzhab Syafi'i puasa syawal paling utama dilakukan secara berturut-turut, yaitu selama enam hari dimulai sehari setelah hari raya idul fithri.  Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal, maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal.[1]

 

Perlu diperhatikan, dalam Hadis di atas Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menyatakan bahwa pahala puasa satu tahun penuh tersebut akan diberikan kepada seseorang yang puasa enam hari di bulan Syawal dengan syarat, ia telah menunaikan puasa Ramadhan.  Artinya, jika ia memiliki hutang puasa Ramadhan dan belum membayarnya, kemudian ia melakukan puasa Syawal, maka puasa Syawalnya itu hanya akan bernilai sebagai puasa sunah biasa.  Lalu bagaimana dengan seseorang yang berpuasa selama enam hari di bulan syawal dengan niat untuk membayar hutang puasanya dan sekaligus melakukan puasa sunah Syawal?  Khotib Asy-Syirbini menjelaskan bahwa jika seseorang di bulan Syawal menunaikan puasa qadha (membayar hutang puasa ramadhan), membayar nadzar atau sejenisnya, ia tetap mendapat pahala puasa sunah Syawal, akan tetapi pahala yang ia peroleh tidak sempurna.  Bukan pahala puasa satu tahun penuh.[2]

 

Oleh karena itu, bagi seseorang yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan, lebih baik ia membayar hutang puasanya terlebih dahulu, baru kemudian ia melakukan puasa sunah Syawal.  Sebab, dalam Hadis di atas Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menyatakan:

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti (orang yang) berpuasa selama setahun penuh. (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa`i dan Ibnu Majah)

 

Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

 



[1] Lihat Yahya bin Syaraf An-Nawawî, Syarhun Nawawî 'Ala Shahîh Muslim, Darul Fikr, 1995, Juz.VIII, hal.47.

[2] Lihat Khotîb Asy-Syirbînî, Mughnil Muhtaj, Darul Kutubil 'Ilmiah, 1998, Juz.I, hal.600.

Jawaban Kyai terkait dengan pertanyaan Anda ::

Tinggalkan Komentar

Form bertanda * harus diisi.
Email Anda tidak akan ditampilkan.

Silahkan anda tuliskan huruf yang ada di gambar.
Tulisan tidak memperhatikan huruf kapital
dan semua tulisan adalah huruf.