logo-kyaijawab

penulis : Kyai || dibaca : 370 Kali

Ketahuilah, seseorang tidak akan bisa menghilangkan bisikan-bisikan itu dengan sesuatu yang lebih manjur daripada cara berikut, yaitu berpalinglah dari bisikan-bisikan itu, berusahalah untuk melupakannya, dan banyaklah membaca doa ini setiap kali bisikan itu datang:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْخَلاَّقِ: إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَ يَأْتِ ِبخَلْقٍ جَدِيْدٍ وَ مَا ذلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ

            Maha suci Allah Maha Pencipta, jika Dia menghendaki niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti dengan makhluk yang baru, dan tidaklah yang demikian itu sulit bagi Allah[1].

 

            Bisikan-bisikan semacam ini merupakan salah satu jenis ujian (bala`).  Setiap Mukmin akan mendapatkan pahala jika menjalani-nya dengan adab yang layak terhadap Allah.  Allah memberikan ujian ini kepada seorang hamba agar ia kembali kepada-Nya, agar lari kepada-Nya dengan hati yang luluh.[2]  Pada saat itu Allah menjawab,

أَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعاَهُ وَ يَكْشِفُ السُّوْءَ

        Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan itu.

(An-Naml, 27:62)

            Bisikan-bisikan itu boleh jadi diakibatkan oleh kesan yang ditinggalkan oleh persoalan yang dihadapi seseorang, bisa juga dari makanan yang tidak baik[3], atau akibat pergaulan dengan orang yang suka berbuat jahat.  Maka orang itu wajib memeriksa hatinya dan bertobat atas segala kekurangannya.  Jika setelah mencurigai hatinya, ia tidak menemukan aib, maka hendaknya ia bertobat atas segala dosanya: baik yang ia ketahui maupun tidak.  Jika bisikan-bisikan itu muncul tanpa sebab, maka itu adalah ujian dari Allah.  Jadi, hendaknya ia bersabar sampai bisikan itu tidak mengganggunya lagi.  Allah akan memberinya pahala atas kesabarannya.

(‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad, Nafaisul ‘Uluwiyyah fil Masailis Shufiyyah, cet. I, Darul Hawi, 1993/1414H, hal.88)



[1] Yang bergaris bawah adalah Fâthir, 35:16-17.

[2] Rasûlullâh saw bersabda:

أَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ أَجْلِيْ

                “Aku senantiasa berada bersama orang yang hancur hatinya karena Aku.” (Disebut oleh Imâm al-Ghazâlî dalam Bidâyatul Hidâyah sebagai Hadis qudsi tanpa perawi)

[3] Allâh SWT mewahyukan, “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik yang terdapat di bumi.” (Al-Baqarah, 2:168)  Sahl bin ‘Abdullâh at-Tusturî rohimahulloh berkata, “ Barang siapa memakan sesuatu yang haram, maka mau atau tidak, tahu atau tidak, anggota tubuhnya akan bermaksiat, dan barang siapa memakan sesuatu yang halal, anggota tubuhnya akan taat dan ia akan memperoleh taufik untuk berbuat baik.”

Tinggalkan Komentar

Form bertanda * harus diisi.
Email Anda tidak akan ditampilkan.

Silahkan anda tuliskan huruf yang ada di gambar.
Tulisan tidak memperhatikan huruf kapital
dan semua tulisan adalah huruf.